Minggu, 18 Maret 2012

makalah kemiskinan dan kesenjangan pendapatan di Indonesia


Kemiskinan Dan kesenjangan Pendapatan di Indonesia

BAB I

PENDAHULUAN



1.1. Latar belakang

Di Negara Indonesia sendiri kemiskinan dan kesenjangan pendapatan warga negaranya terlihat perbedaan yang sangat mencolok antar warga negaranya. Hal ini semakin terlihat dengan status kemiskinan di indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Kemiskinan dan kesenjangan pendapatan menimbulkan berbagai perilaku negatif warga negaranya.

Ketimpangan yang besar dalam distribusi pendapatan (yang dimaksudkan dengan kesenjangan ekonomi) dan tingkat kemiskinan (presentase dari jumlah populasi yang hidup di bawah garis kemiskinan) merupakan dua masalah besar di banyak LDCs, tidak terkecuali di Indonesia. Di katakan besar, karena jika dua masalah ini berlarut-larut atau di biarkan akan semakin parah dampak yang akan terjadi. Pada akhirnya akan menimbulkan kosekuensi politik dan sosial yang sangat serius.

Kejadian tragedi tahun 1998, menjadi suatu kejadian pemerintahan bisa jatuh karena amukan rakyat miskin yang sudah tidak tahan lagi menghadapi kemiskinannya yang menjadi suatu pertanyaan (hipotesis) hingga sekarang: andaikan tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia rata satu sama lain, pasti tragedi tahun 1998 tidak akan terjadi.

Di Indonesia, pada awal pemerintahan Orde Baru para pembuat kebijaksanaan dan perencanaan pembangunan ekonomi di Jakarta masih sangat percaya bahwa proses pembangunan ekonomi yang pada awalnya terpusatkan hanya di jawa dan hanya di sektor-sektor tertentu saja, pada akhirnya akan menghasilkan apa yang di maksud dengan trickle down effects.



 

Bab II

ISI



2.1. Permasalahan Pokok

Pada awal periode Orde Baru hingga akhir tahun 1970-an, strategi pembangunan ekonomi yang di anut oleh pemerintahan soeharto lebih berorientasi kepada pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Dalam mencpai tujuan kesejahteraan masyarakat Indonesia dimulai dengan memulai pusat pembangunan ekonomi nasional yang dimulai di daerah pulau jawa dengan alasan bahwa fasilitas-fasilitas yang di butuhkan ada di pulau jawa  seperti pelabuhan, jalan raya, dan kereta api, telekomunikasi, kompleks industri, gedung-gedung pemerintah/administrasi  negara, kantor-kantor perbankan, dan lain sebagainya. Pembangunan pada saat itu juga hanya terpusatkan di sektor-sektor tertentu saja yang secara potensial memiliki kemampuan besar untuk menghasilkan NTB yang tinggi.

Namun sejarah menunjukan bahwa setelah 30 tahun lebih sejak Pembangunan Lima Tahun (PELITA) yang pertama dibuat tahun 1968. Pada tahun 1970-an dan awal 1980-an harga minyak bumi melonjak tinggi di pasar dunia sehingga Orde Baru mampu membangun dan mengendalikan inflasi serta membuat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Akibat dari strategi tersebut dapat di lihat pada tahun 1980-an hingga krisis ekonomi terjadi pada tahun 1977, Indonesia memang menikmati laju pertumbuhan ekonomi rata-rata per tahun yang tinggi, tetapi tingkat kesenjangan dalam pembagian Pendapatan Nasional (PN) juga semakin besar dan jumlah orang miskin tetap banyak, bahkan meningkat tajam sejak krisis ekonomi.

Sejak PELITA III strategi pembangunan mulai di ubah: tidak lagi terfokus pda pertumbuhan ekonomi, tetapi peningkatan kesejahteraan masyarakat menjadi tujuan utama dari pembangunan. Sejak itu perhatian mulai diberikan pada usaha meningkatkan kesejahteraan masyarakat, misalnya lewat pengembangan industri-industri padat karya, pembangunan perdesaan, dan modernisasi sektor pertanian. Hingga menjelang terjadinya krisis ekonomi, sudah banyak di laksanakan program-program pemerintah yang bertujuan untuk mengurangi kemiskinan dan ketimpangan pendapatan antara kelompok miskin dan kelompok kaya di tanah air. Program-program tersebut diantara lain:

a)      Inpres Desa Tertinggal ( IDT ),

b)      Pengembangan industri kecil dan rumah tangga (khususnya daerah tertinggal),

c)      Transmigrasi,

d)     Pelatihan/pendidikan,

e)      Dan masih banyaknya lagi.

Sayangnya, krisis ekonomi tiba-tiba muncul diawali oleh krisis nilai tukar rupiah pada pertengahan kedua tahun 1997, dan sebagai salah satu akibat langsungnya jumlah orang miskin dan gap dalam distribusi pendapatan di tanah air membesar bahkan menjadi jauh lebih buruk di bandingkan dengan kondisinya sebelum krisis.

 2.2. Kemiskinan

Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat di sebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan.

Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komporatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evulatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan.

Kemiskinan di pahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya mencakup:

a.       Gambaran kekurangan materi

Biasanya mencakup kebutuhan pengan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini di pahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.

b.      Gambaran tentang kebutuhan sosial

       Termasuk keterkucilan sosial, keterganungan, dan ketidakmampuan untuk berpatisipasi dalam masyarakat.hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya di bedakan dari kemiskinan karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral dan tidak di batasi pada bidang ekonomi.

c.       Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai

      Makna “memadai” disini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia.

Kemiskinan bisa di kelompokan dalam dua kategori, yaitu:

1.      Kemiskinan Absolut

Mengacu pada satu set standart yang konsisten tidak terpengaruh oleh waktu dan tempat/ negara. Sebuah contoh dari pengukuran absolut adalah persentase dari populasi yang makan di bawah jumlah yang cukup menopang kebutuhan tubuh manusia (kira-kira 2000-2500 kalori per hari untuk laki-laki dewasa).

Bank Dunia mendefinisikan kemiskinan absolut sebagai hidup dengan pendapatan di bawah USD $1/hari dan kemiskinan menengah untuk pendapatan di bawah $2/hari dengan batasan ini maka di pekirakan pada tahun 2011, satu miliar orang didunia mengkomsumsi kurang dari dari $1/hari dan 2,7 miliar orang di dunia mengkomsumsi kurang dari $2/hari. Proporsi penduduk negara berkembang yang hidup dalam kemiskinan ekstrem telah turun dari 28% pada 1990 menjadi 21% pada 2011. Melihat pada periode 1981-2001, prosentase penduduk dunia yang hidup dibawah garis kemiskinan $1/hari telah berkurang separuh. Tetapi, nilai dari $1/hari juga mengalami penurunan dalam kurun waktu tersebut.

Meskipun kemiskinan yang paling parah terdapat di dunia berkembang, ada bukti tentang kehadiran kemiskinan di setiap region. Di negara-negara maju, kondisi ini menghadirkan kaum tuna wisma yang berkelana kesana kemari dan daerah pinggirankota dan ghetto yang miskin.

2.      Kemiskinan Relatif

Kemiskinan banyak di hubungkan dengan  Penyebab individual atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin. Penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga. Penyebab sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan sehari-hari di pelajari atau di jalankan dalam lingkungan sekitar.  Penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi.



2.3. Hubungan Antara Pertumbuhan Dan Kemiskinan

Pada tahap awal dari proses pembangunan, tingkat kemiskinan cenderung meningkat dan pada saat mendekati tahap akhir dari pembangunan, jumlah orang-orang miskin berangsur-angsur berkurang. Banyak faktor-faktor lain selain pertumbuhan pendapatan yang juga berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan di suatu wilayah/negara, seperti derajat pendidikan tenaga kerja dan struktur ekonomi.

Dalam persamaan relasi antara pertumbuhan output agregat dan kemiskinan, elastisitas dari ketidak merataan dalam distribusi pendapatan terhadap pertumbuhan pendapatan adalah suatu komponen kunci dari perbedaan antara efek bruto(ketimpangan konstan) dan efek neto (ada efek dari perubahan ketimpangan) dari pertumbuhan pendapatan terhadap kemiskianan. Dalam kata lain,kemiskinan tidaka hanya berkorelasi dengan pertumbuhan output agregat atau PDB atau PN, tetapi juga denagn pertumbuhan output di sektor-sektor ekonomi secara individu.



2.4. Indikator Kesenjangan dan Kemiskinan



Ada sejumlah cara untuk mengukur tingkat kesenjangan dalam distribusi pendapatan yang dapat dibagi ke dalam dua kelompok pendekatan, yakni axiomatic dan stochastic dominance . yang sering digunakan di dalam literatur adalahdari kelompok pendekatan pertama dengan tiga alat ukur, yakni the Generalized Entropy (GE) , ukuran Atkinson dan koefisien Gini. Alat ukur ketiga dari pendekatan aksioma selalu di gunakan di dalam setiap studi-studi empiris mengenai kesenjangan dalam pembagian pendapatan adalah koefisien atau rasio Gin, yang diuraikan sebagai berikut:



2.5. Distribusi Pendapatan

Studi-studi mengenai distribusi pendapatan di Indonesia pada umumnya menggunakan data BPS mengenai pengeluaran konsumsi rumah tangga dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas).

Demikian pula pengertian pendapatan yang artinya pembayaran yang di dapat karena bekerja atau menjual jasa tidak sama dengan pengertian kekayaan. Kekayaan seseorang bisa jauh lebih besar dari pada pendapatannya.

Boleh dikatakan bahwa baru sejak akhir 1970-an pemerintah Indonesia ulai memperlihatkan kesungguhan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sejak saat itu aspek pemerataan dalam trilogi pembangunan semakin di tekankan dan ini diidentifikasikan dalam delapan jalur pemerataan, sudah banyak program-program dari pemerintah pusat hingga saat ini mencerminkan upaya tersebut seperti:

a)      Program serta kebijakan yang mendukung pembangunan industri kecil

b)      Rumah tangga dan koperasi

c)      IDT

d)     Program keluarga sejahtera

e)      Program keluarga berencana (kb)

f)       Program makanan tambahan bagi anak sekolah dasar

g)      Program transmigrasi

h)      Peningkatan UMR atau provinsi (UMP)

i)        Jaringan pengamana sosial yang di sponsori bank dunia

Secara teoritis perubahan pola distribusi pendapatan di perdesaan di sebabkan oleh faktor-faktor berikut:

1. Akibat arus penduduk/L dari perdesaan ke perkotaaan yang selama Orde Baru berlansung sangat pesat.

2. Struktur pasar dan besarnya distoris yang berbeda di perdesaan dengan perkotaan.

3. Dampak positif dari proses pembanguan ekonomi nasional diantaranya:

a.  Semakin banyaknya kegiatan-kegiatan ekonomi di perdesaan di luar sektor pertanian seperti industri manufaktur.

b. Tingkat produktivitas dan pendapatan (dalam nilai riil) L di sektor pertanian meningkat.

c.  Potensi SDA ( sumber daya alam) yang ada di perdesaan semakin baik karena di manfaatkan oleh penduduk desa (pemakain semakin optimal)

            Tingkat kesenjangan distribusi pendapatan diIndonesia dapat juga di ukur dengan metode Bank Dunia, yakni membagi jumlah populasi ke dalam tiga kelompok yakni:

a.    40%  berpedapatan rendah

b.    40%  berpendapatan menengah

c.    20 %  berpendapatan tinggi

            Kelompok pertama adalah bagian dari populasi terkaya sedangkan kelompok ke tiga adalah bagian dari populasi termiskin dan kelompok kedua sering di sebut/ dikatakan sebagai masyarakat kelas menengah.

            Di Indonesia kemiskinan merupakan salah satu masalah besar. Terutama melihat kenyataan bahwa laju penguranag jumlah orang miskin di tanah air bedasarkan garis kemiskinan yang berlaku jauh lebih lambat dibandingkan laju perekonomian  pertumbuhan ekonomi dalam kurun waktu sejak PELITA I hingga 1997( sebelum krisi ekonomi).



2.6. Kebijakan Anti Kemiskinan

Intervensi jangka pendek adalah pembangunan sektor pertanisan, usaha kecil, dan ekonomi perdesaan . akibat  ketimpangan ini, terjadilah migrasi dan urbanisasiyang sebenarnya adalah perpindahan sebagian dari kemiskinan di perdesaan ke perkotaan.

Intervensi lainnya yang bisa di masukkan dalam kategori intervensi jangka pendek adalah manajemen lingkungan dan SDA. Sedangkan interveni jangka menengah dan panjang yang penting adalah sebagai berikut:

1.   Pembangunan / penguatan sektor swasta

2.   Kerjasama regional

3.   Manajemen pengeluaran pemerintah (APBN) dan administrasi

4.   Desentralisasi

5.   Pendidikan dan kesehatan

6.   Penyediaan air bersih dan pembangunan perkotaan

7.   Pembagian tanah pertanian yang merata

            Kebijakan antikemiskinan di Indonesia terefleksi dari besarnya pengeluaran dalam APBN untuk membiayai program-program pemberantasan kemiskinan di tanah air. Kondisi ini semakin diperuncing oleh perebutan dan gejolak harga tiga sumber daya strategis, yakni pangan, energi, dan air. Demikian salah satu kesimpulan yang disarikan dari ringkasan eksekutif hasil pertemuan Forum Ekonomi Dunia (WEF) 2011 yang diterima Media Indonesia, Ahad (6/2).

Peringatan ini merupakan hasil laporan yang teridentifikasi melalui Survei Risiko Global 2011.

Pertumbuhan negara-negara ekonomi unggul baru memang mulai menyeimbangkan kekuatan perekonomian. Namun demikian, disparitas ekonomi di antarnegara terus melebar,” demikian laporan itu.

Menurut laporan itu, globalisasi di abad ke-21 telah membentuk wajah baru perekonomian dunia yang lebih berhubungan dan tergantung serta tumbuh berkelanjutan.

Namun, disparitas menunjukkan tren semakin melebar karena globalisasi belum dinikmati secara merata. Kaum minoritas dan marginal belum dapat menikmati kue keuntungan secara adil.

Survei itu juga mengingatkan bagaimana isu-isu disparitas ekonomi dan konsentrasi modal, baik pada tingkat domestik dan internasional, perlu disikapi lebih serius saat ini. Sebab, secara politis, dunia kini mulai diwarnai tanda-tanda perpecahan horisontal bersamaan dengan bangkitnya rasa nasionalisme. Ini turut dipicu perbedaan pendapat di antarnegara mengenai metode kebijakan ekonomi yang inklusif bagi negaranya. Untuk memenuhi tantangan global ini, peningkatan kualitas tata kelola pemerintahan global jadi faktor krusial untuk menekan potensi konflik yang tercipta.



BAB III

KESIMPULAN





Jadi kesimpulan yang telah saya buat di atas disini tingkat kemiskinan indonesia masih belum bisa di selesaikan, Tahun ini tingkat kemiskinan di indonesia semakin meningkat, dimana sedikitnya lapangan kerja untuk masyarakat dan kemampuan/keterampilan. Masyarakat tidak bisa dimilikinya, karena kurangnya pendidikan di indonesia masih menjadi masalah. Maka dari itu pemerintah harus memberikan lapangan pekerjaan bagi para pengangguran dan membuat bangunan sekolahan untuk masyarakat yang tidak mampu.



























































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Total Tayangan Laman


No Rek : 015001001482539
A/N : febri ansyah



No Rek : 0145953094
A/N : febriansyah


Follow by Email

Entri Populer